Katolik Garis Lucu di antara Humor dan Hujat: Perspektif Filsafat Moral

Jagad maya Katolik di Nusantara belakangan resah dengan pro-kontra pada postingan meme Yesus di akun Katolik Garis Lucu (setelah ini disingkat “KGL”) yang dianggap menista iman. Aneka komentar di Facebook, Twitter dan Instagram saling bersahutan: ada yang mendukung, ada yang mengecam dan tak sedikit yang sampai mengutuk.  Mereka yang mendukung KGL menganggap bahwa meme bermaksud humor itu adalah bentuk satir untuk mengingatkan umat pada esensi ajaran. Media sosial juga menjadi riuh karena seolah kelompok yang mengecam merasa bahwa mereka sedang berusaha mempertahankan kemuliaan dan kekudusan Tuhan. Lalu mana yang benar? Bagaimana sikap kita?

Alasdair MacIntyre dan ketidak-setujuan moral di zaman modern

Alsadair MacIntyre, pemikir besar abad ini, menulis bahwa protes dan kemarahan adalah penanda dari debat publik di dunia modern. Mengapa? Karena bagi MacIntyre, mustahil bagi kelompok manapun untuk memenangkan argumen mereka sejauh tidak ada persetujuan antara kelompok sosial itu tentang cara bagaimana mereka menang dan bahkan apa itu kemenangan. Menurut MacIntyre, ketidak-setujuan moral di dunia modern menjadi sulit – bila tidak mustahil – dimitigasi oleh rasionalitas bersama.

Premis yang saling berlawanan sulit untuk sampai pada pengertian bersama yang dapat mengubah pikiran seseorang. Mustahil untuk meyakinkan pihak lain tentang apa itu “kebaikan” secara rasional karena masing-masing argumen yang berlawanan membawa kebenaran dan logika moral sendiri. Bagi mereka yang pro-aborsi, misalnya, “kebaikan” didefinisikan sebagai kebebasan yang dimiliki para perempuan untuk menentukan apa yang terjadi dengan tubuhnya sendiri. Karena janin adalah bagian dari tubuh perempuan, maka dapat dibenarkan tindakan menghilangkan janin itu bila yang bersangkutan memang menghendakinya. Argumen kebebasan dan hak asasi digunakan untuk mendefinisikan apa yang baik bagi pendukung aborsi. Namun, argumen moral yang sama dapat digunakan juga oleh penentang aborsi. Justru karena janin adalah individu manusia yang kebebasan dan hak asasi untuk hidupnya harus dilindungi sejak tahap awal mula, maka aborsi tidak pernah dapat dibenarkan. Bila dua argumen moral yang kurang lebih sama memunculkan perbedaan yang begitu tajam, jangan-jangan apa yang “baik” bergantung pada ranah emotif seseorang; pada selera dan pilihan masing-masing individu. Karenanya, secara rasional, menurut MacIntyre hampir tidak ada wadah yang dapat menampung perbedaan preferensi ini.

Humor, hujatan dan tiadanya konsensus rasional

Cara pandang Alasdair MacIntyre ini berbeda dengan relativisme moral. Relativisme moral adalah pandangan bahwa benar salahnya justifikasi moral bergantung pada satu titik pandang partikular tertentu dan bahwa tidak ada perspektif unik yang lebih tinggi dari yang lainnya. Bagi saya sebagai seorang Katolik, tentu aborsi adalah dosa besar yang melawan perintah Allah untuk menjaga kesucian hidup. Saya akan mengusahakan dengan segala upaya tenaga untuk mencegahnya. Keyakinan saya tentang “kekudusan hidup” adalah rasional. Di depan diskursus rasional dari mereka yang mendukung aborsi, saya tidak kehilangan argumen rasional saya dan tidak kehilangan preferensi moral saya. Dalam perspektif MacIntyre, karena begitu ramainya argumen rasional, maka pihak yang berlainan pendapat tidak dapat sampai pada konsensus bersama tentang apa yang “baik.” MacIntyre tidak hendak membela relativisme moral. Ia hanya menunjukkan bahwa dalam sejarah filsafat moral, kita tidak menemukan konsensus yang rasional tentang apa itu “kebaikan” sehingga tak dapat sampai pada kesimpulan yang sama tentang sebuah tindakan moral. Sekali lagi, ini bukan tentang relativisme moral.

Dalam konteks polemik KGL, masing-masing kubu pro dan kontra pasti memiliki argumen moralnya masing-masing. Bagi yang menjustifikasi bahwa humor KGL menista kekudusan Tuhan, beberapa argumen preskriptif berikut sering jadi rujukan:

a. Perintah Allah ke-2; yang berbunyi: “Kuduskanlah nama Tuhan!”

b. Katekismus Gereja Katolik

2161    Perintah kedua menentukan untuk menghormati nama Tuhan. Nama Tuhan itu kudus.

2162    Perintah kedua melarang tiap penggunaan nama Allah secara tidak pantas. siapa yang memakai nama Allah, Yesus Kristus, Perawan Maria, dan orang-orang kudus atas cara yang menghina, menghujat Allah.

c. Kitab Hukum Kanonik

1369    Yang dalam suatu pertunjukan atau pertemuan umum, atau tulisan yang tersebar secara publik, atau secara lain dengan menggunakan alat-alat komunikasi sosial, menghujat, atau melanggar moral umum secara berat, atau menyatakan penghinaan atau membangkitkan kebencian maupun pelecehan terhadap agama atau Gereja, hendaknya dihukum dengan hukuman yang adil.

Pendekatan preskriptif ini sahih bagi mereka yang mendaku diri katolik karena kebenaran moralnya dijaminkan pada Kitab Suci dan Magisterium Gereja. Menggunakan rasionalitas makna literal dari kutipan ini, menurut kelompok yang tersinggung, maka posting KGL dapat dimaknai sebagai sebuah penghujatan, penghinaan dan pelecehan pada agama dan Gereja. Bila kita gunakan pendekatan moral Gereja Katolik tentang obyek tindakan, maka penghujatan sendiri – lepas dari intensi dan situasi agen moralnya – adalah sebuah tindakan yang melawan cinta kasih dan akibatnya termasuk sebagai dosa.

Namun filsafat MacIntyre dapat memberi wawasan baru dalam klaim ini: apakah ada konsensus moral yang sama tentang definisi penghinaan dan penghujatan Allah? Dari sudut pandang mereka yang mendukung KGL, tunduk pada pendekatan preskriptif ini justru sangat membantu mereka lepas dari tuduhan penghujatan. Mengapa? Karena humor yang lahir dari cinta kasih sangat mungkin tidak termasuk dalam kategori “cara yang menghina, membangkitkan kebencian maupun pelecehan terhadap agama atau Gereja.” Melukai perasaan sebagian anggota Gereja adalah obyek moral yang berbeda dengan obyek kekudusan, yaitu: Tuhan, agama dan Gereja sebagai Tubuh Kristus.

Bila humor datang dari kebencian akan iman dan Gereja Katolik (sebagaimana juga pernah dan masih dilakukan oleh tokoh agama lain), tentu dengan sangat mudah kita menempatkan rujukan preskriptif ini sebagai landasan definisi ‘hujatan’ dan sejauh apa humor tentang iman memiliki batasnya. Pun pula bila ada orang beriman Katolik yang menggunakan nama Tuhan untuk bersumpah palsu, tindakan ‘menghujat nama Tuhan’ ini dapat dengan mudah ditentukan definisinya baik berdasarkan obyek maupun intensi jahatnya.

Namun, bila humor itu datang dari sesama saudara-sudari seiman dan lahir bukan dari kebencian pada Gereja dan Tuhan, melainkan dari relasi personal dengan Allah Transendens yang berinkarnasi dalam Yesus Kristus; yang memanggil muridNya sebagai “sahabat” dan bukan “hamba,” masihkah humor itu jatuh dalam kategori hujat dan kebencian? Pertanyaan fundamental ini bukanlah mengenai intensi dan situasi si agen moral. Pertanyaan ini adalah tentang definisi obyek tindakan “menghujat.” MacIntyre mengingatkan bahwa konteks sosial yang berbeda akan melahirkan konten sosial yang berbeda pula. Ia mengambil contoh tentang betapa rumitnya definisi dari kata “definisi” yang ditemukan dalam kamus. Ada banyak sekali untaian turunan makna kata “definisi” sesuai konteksnya – bukan hanya dalam kamus bahasa Inggris, namun juga dalam KBBI – untuk mendefinisikan satu kata ini. Rupanya, definisi obyek tindakan moral ternyata tidak lepas dari konteks sosialnya.

Adalah sahih sebagai sebuah kemungkinan bahwa mereka yang tersinggung dengan ‘dark humor’ KGL adalah sekumpulan agen moral yang terlepas dari konteks sosial lahirnya KGL serta visi misi yang diusung oleh KGL ini. Kelompok yang berbeda konteks ini bisa jadi berhenti hanya pada “konten” yang dianggap melecehkan kekudusan Tuhan. Bagi mereka yang kontra KGL, sangatlah mungkin bahwa perbedaan cakrawala tentang apa yang kudus, yang mulia dan yang transedens itu menyebabkan “dark humor” tampil sebagai “penistaan.” Sementara, bagi yang mendukung KGL dan cara melucunya akan dengan mudah balik membalas kelompok yang tersinggung ini sebagai kelompok picik yang tidak punya selera humor. Padahal, belum tentu demikian adanya. Penyebab terjadinya polemik pro dan kontra KGL ini sebenarnya bukan sekadar soal gambar atau kata-kata suci yang dipelesetkan, namun karena ketiadaan konsensus rasional tentang apa itu hujat dan humor.

Dialog ke dalam yang lebih mendalam: demi satu Tubuh Kristus

Dua argumen moral yang sama-sama berangkat dari pendekatan preskriptif ini memiliki bobot rasional masing-masing. Karena kesetujuan pandangan tidak dimungkinkan dalam perdebatan antara kedua kelompok ini, maka pertanyaan utamanya adalah: bagaimana saya dan engkau, sebagai bagian dari anggota Gereja, harus bersikap?

MacIntyre mengingatkan bahwa modernisme telah menyebabkan identitas personal tiap agen moral tidak lagi lekat pada peran sosial tertentu. Akibatnya, tidak ada lagi yang mengharuskan masing-masing agen moral untuk menuju pada sebuah tujuan bersama (telos) sehingga pendapat pribadi rentan untuk lepas dari ikatan sosial. Mungkin ini sebabnya, masing-masing orang yang terlibat dalam perdebatan di media sosial cenderung untuk mempertahankan pendapatnya sendiri; bahkan tak jarang sampai mengutuki pandangan yang berbeda. Di kubu mereka yang tersinggung, misalnya, saya melihat beberapa seruan bahwa KGL, selain “menista agama”, juga adalah “golongan liberal, iblis, pelacur dan penjual harga diri Gereja.” Di kubu yang mendukung KGL, kita melihat narasi yang mengatakan bahwa mereka yang tersinggung adalah “golongan kadrun Katolik, bigot, dan golongan konservatif yang ketinggalan zaman.”

Saya mengusulkan, bila tidak dapat bersepaham dalam definisi tentang humor dan hujatan, maka sebaiknya kedua kubu mengambil argumen rasional yang pragmatis, yaitu: bersepaham bahwa perbedaan tidak akan sampai mengurangi prinsip kesatuan Gereja Katolik. Prinsip Gereja yang ‘satu’ dapat menjadi bingkai untuk melihat perbedaan dan ketidak-setujuan moral dengan lebih jernih. Penting bagi tiap individu untuk juga menimbang keanggotaan dalam satu Tubuh Kristus yang sama sebagai pengikat telos untuk menemukan titik dialog ke dalam yang lebih mendalam. Mungkin, kita sebagai Gereja telah terlalu banyak mengusahakan dialog ke luar hingga saat terjadi polemik internal, kita cenderung gagap dan sibuk berbantah dengan pendapat sendiri-sendiri.

Setidaknya ada lima hal konkret berdasar prinsip kesatuan Tubuh Kristus untuk mulai berdialog ke dalam dengan lebih mendalam, yaitu:

(1) Mengusahakan dialog yang santun, proporsional dan personal dengan yang berbeda paham. Konkretnya? Hindarilah komentar penuh penghakiman sepihak di ruang publik. Hindari diksi-diksi negatif yang mengancam persatuan Tubuh Kristus di ruang publik saat ingin saling mengingatkan ketidak-setujuan moral. Ingatlah bahwa masing-masing perbedaan paham, bila didukung oleh pandangan rasional, juga harus dihargai. Bila Anda tidak dapat menghargai kelucuan KGL, minimal Anda menjaga etika berkomunikasi sebagai murid Kristus. Sampaikan saja keberatan Anda dengan runut dan proporsional di jalur pribadi. Admin KGL juga harus menyadari bahwa humor adalah wilayah abu-abu yang relatif riskan memancing sentimen negatif pada agama. Para admin media sosial Katolik harus terbuka pada kritik dan secara proporsional makin menyadari tanggungjawab dan imbas setiap posting mereka; juga tanggungjawab untuk dengan rendah hati meminta maaf bila setelah discernment  bersama memang ditemukan teks atau gambar yang mengancam persatuan Tubuh Kristus.

(2) Perdalamlah argumen rasional dalam perdebatan untuk menjelaskan preferensi emotif Anda. Saya prihatin sekali dengan beberapa akun dan kelompok yang hanya copy-paste dokumen-dokumen Gereja dan Kitab Suci sebagai justifikasi mutlak tanpa penjelasan dan pengertian lebih jauh tentang sejarah pemikiran dan konteks perkembangan doktrin teologi yang dikutip. Mari bersama menghindari kedangkalan berpikir di ruang publik. Keberatan masing-masing pihak mestinya dikanalisasi oleh mereka yang mendalami filsafat dan teologi secara formal. Di lain pihak, Garis Lucu sendiri sebaiknya memberi pula ruang bagi humor yang “rasional” agar sensasi lucu tidak menjadi tujuan akhir, namun menjadi pintu masuk bagi orang-orang beriman untuk memikirkan kembali relasinya dengan Tuhan. Kolaborasi dengan mereka yang berbeda paham mungkin dapat membantu KGL menemukan humor yang juga menumbuhkan tradisi berpikir kritis sebagaimana selalu menjadi ciri iman Katolik.

(3) Para imam yang aktif di dunia maya sebaiknya juga menyadari fungsi kegembalaan dan martabatnya sehingga tak mudah teragitasi dan menjadi reaktif. Pahami lebih dulu konteks sosial akun media Katolik yang problematik. KGL sebagai wadah orang-orang muda di Twitter telah menjadi jembatan konkret untuk dialog antar-agama dan untuk aksi sosial kemanusiaan. Tak dapat dipungkiri bahwa dalam beberapa posting yang melukai hati sebagian umat, KGL sekilas tampak lupa bahwa dalam Tubuh Kristus yang satu itu, ada rupa-rupa budaya dan pemahaman yang berbeda penghayatan imannya. Namun, itu bukan alasan bagi para imam yang aktif di media sosial untuk bereaksi secara berlebihan. Ingatlah bahwa pada zaman post-truth ini,  polarisasi yang datang dari preferensi emotif akan sangat mudah terjadi. Jangan-jangan postingan pendapat pribadi para Gembala yang tidak proporsional di media sosial dapat makin menajamkan polarisasi di antara umat yang bergulat dengan ketidak-setujuan moral dan dengan demikian malah kontraproduktif dengan cita-cita kesatuan Gereja.

(4) Berhadapan dengan fenomena media sosial, sebaiknya kita sebagai Gereja makin mengusahakan literasi penggunaan internet dalam kerangka spiritualitas dan etikanya. Sudah saatnya, baik di level personal maupun komunal, kita membawa wacana penting ini untuk didalami lebih lanjut. Mengapa? Karena informasi selalu memiliki daya formasinya sendiri di kalangan orang muda.

(5) Mengusahakan keterlibatan sosial yang nyata adalah imperatif bagi penggunaan media sosial yang sehat. Kita mendorong setiap orang muda Katolik untuk tidak hanya menjadi “penikmat” humor berbumbu iman, namun juga sebagai “pencipta” narasi-narasi besar tentang ketidak-adilan, kemiskinan, kesetaraan gender dan tanggung-jawab ekologis. Dalam perspektif sosial yang lebih luas, ketidak-setujuan moral bukan alasan untuk tidak memberi buah nyata di tengah dunia. Mereka yang menikmati kelucuan tidak boleh berhenti hanya pada tawanya. Mereka yang membela transendensi Ilahi tidak boleh lupa untuk “turun dari gunung devosional atau intelektualnya” serta menyapa orang-orang sekitarnya. Komitmen bersama pada perjumpaan offline dan pada aksi kasih yang nyata adalah pintu perjumpaan yang baik bagi mereka yang berbeda paham dan penghayatan tentang apa yang kudus dan apa yang profan!

Ahirnya …

Internet adalah pintu masuk ke dunia komunikasi yang luar biasa dahsyat dan yang menjanjikan kenyamanan lebih dalam berhubungan dan memperoleh akses informasi; sebuah dunia yang disebut oleh Manuel Castellis sebagai the internet Galaxy. Galaksi baru ini membawa revolusi besar atas cara manusia (modern) berinteraksi satu sama lain dan bahkan dengan dirinya sendiri. Di dalam ‘galaksi’ itu kita melihat bagaimana tatanan sosial dalam segala seginya – ekonomi, budaya, religiositas, politik  dan lain-lain – terbentuk dalam interkonektivitas yang mengatasi batas-batas teritorial dan moral. Polemik dan ketidak-setujuan moral tentang humor dan hujat dalam salah satu bagian kecil dari perubahan pola interaksi manusia di zaman modern ini. Semoga, para pengikut Kristus tidak tenggelam dalam galaksi baru ini dan tidak lupa untuk mengubah gelanggang sosial ini menjadi serupa dengan Kristus sendiri. “Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi” (Ef 1:9-10).

Albertus Joni, s.c.j

Yang Muda Ikut Terlibat

Video ini adalah rekaman percakapan @romo_koko dengan @albertus.gregory seputar aktivisme orang muda Katolik. Salah satu program kepedulian sosial dalam Gereja Katolik Indonesia adalah @jalakasih – digagas dan dirawat oleh orang muda luar biasa! Saat ini program jalakasih.com telah menjangkau 128 gereja dan puluhan anak didik di pedalaman tanah air. Selamat menikmati percakapan kami dan tolong sebarkan agar lebih banyak kebaikan disemai dan dipetik buahnya… Dua pekan mendatang, kami akan berbincang tentang tema lain. Tunggu update-nya di akun IG @jalakasih dan FB Jala Kasih!

#RomoKoko: Mengapa Berdevosi Kerahiman Ilahi?

Kerahiman Ilahi mungkin adalah devosi yang paling populer saat ini. Namun pertanyaan utamanya: mengapa kita berdevosi pada Kerahiman Ilahi di zaman modern ini? Sembari mendengar kesaksian iman dari Angelina Streenstra, kita akan belajar lebih dalam antara kaitan Kitab Suci dengan devosi ini dan mengapa orang di zaman modern masih harus berharap pada Kerahiman Ilahi…

Karena Hidup Seperti Terminal

“For if we have been united with him in a death like his, we shall certainly be united with him in a resurrection like his.” ~ Romans 6:5

74507811_2540139279552770_8462072569489522688_o

Salah satu kepastian tentang hidup duniawi adalah bahwa kita semua akan mati, wafat, meninggal dunia (you name it-lah!). Kelak, pada satu waktu, engkau dan aku yang gemar berselancar di IG, FB, Twitter dan YouTube, akan sama-sama berujung di kematian; kembali pada debu dan tanah. Kita mungkin pernah bertanya: “Mengapa aku harus dilahirkan kalau suatu hari hidup ini akan berakhir dengan maut yang kaku dan dingin?”

Iman Kristiani menjawab pertanyaan ini dengan sederhana: “Maut bukan akhir dari segalanya!” Kematian adalah keberlanjutan; sebuah tiket di terminal menuju bahagia yang abadi bersama Bapa yang Maha Welas Asih.

Salah satu pewahyuan agung dalam Yesus Kristus adalah bahwa sengat maut telah binasa di atas kayu salib. Maut – yang mulanya hadir akibat dosa – seolah memangsa manusia sejak Adam jatuh. Sebelum Kristus datang, manusia jauh dari Allah bahkan setelah kematian.

Di sinilah indahnya misteri iman Kristiani: Allah menyelamatkan; Ia menjelma menjadi manusia agar raga dan jiwa manusia kembali mulia sesuai martabat saat ia diciptakan! Dan di atas palang penghinaan itu, Sang Putra menebus dosa ketidak-taatan Adam dengan menjadi taat pada kehendak BapaNya; bahkan taat hingga mati.  Continue reading “Karena Hidup Seperti Terminal”

Melihat dari Ketinggian

72634493_2528055497427815_546812743382990848_o

Penting untuk dapat melihat semua masalahmu dari “ketinggian”! Banyak orang gagal mengambil jarak dari masalahnya dan dari emosi negatifnya lalu menjadi over-reactive dan over-sensitive. Dalam doa, kita jadi “terhubung” pada Yang Maha Tinggi… dan kita jadi lebih mudah melihat masalah dari perspektif yang lebih luas; dari cakrawala yang memberi kesempatan pada pergulatan untuk diubah menjadi berkat…
Semoga Anda hari ini diberi rahmat untuk mampu melihat persoalan dan tantangan hidup dengan lebih jernih… dari ketinggian!

Tinggal dalam SabdaNya

“If you continue in My word, you are truly my disciples, and you will know the truth, and the truth will make you free” ~ Jn. 8:31–32

75418165_2522014234578932_7294634272990691328_o
Setia tinggal dan tumbuh dalam Sabda Tuhan itu tidak mudah. Kita hidup dalam “dunia yang sedang berlari,” kata Anthony Giddens. Kita dikelilingi oleh suara-suara penuh tekanan, tuntutan, dan macam-macam tawaran semu: untuk jadi sukses, kaya, dan terkenal. Kita kadang lupa untuk berhenti berlari dan menarik nafas; lupa untuk sekadar bertanya pada dirimu sendiri: “Am I happy?”

Bahagia yang sejati, sahabatku, tak ditentukan oleh isi dompetmu, oleh jaminan masa depanmu dan oleh puja-puji orang di sekelilingmu. Bahagia yang sejati adalah saat kau temukan kepenuhan dirimu dalam SabdaNya yang menghidupkan! Bahagia yang benar adalah saat kita tenggelam dalam kata-kata Putra Allah yang membebaskan: “Bangunlah! Aku pun tak menghakimi engkau… Bangkitlah! Sembuhlah! Jangan berbuat dosa lagi! Sungguh, hari ini juga kau akan bersamaKu di Firdaus…”

Sejenak, luangkan waktumu untuk berdiam bersama SabdaNya! Biarkan hatimu diubah oleh sapaanNya! Di ujung hari, tanpa kau sadari, pelan-pelan kita akan mengerti apa artinya kebenaran; apa artinya menjadi sungguh bebas … Tuhan memberkati!

Untuk Indonesiaku di September 2019

Saffir Maki
Photo credit: Safir Makki/CNN Indonesia

‘Revolusi Mental’ seharusnya membuat orang-orang besar tidak fobia pada kritik dari rakyat kecil… Semoga aku dan engkau – walau saling beradu pendapat – tetaplah sadar bahwa kita adalah saudari-saudara sebangsa yang lahir dari rahim Nusantara!

Jangan saling baku pukul dan bunuh karena kekerasan tak pernah sampai pada solusi yang utuh! Yang berseragam cokelat dan loreng sejatinya disumpah menjadi penjaga anak bangsa… tak boleh kau lukai dan kau ciderai! Pelajar muda berseragam aneka warna juga tak akan jadi dewasa bila argumen mereka disambut dengan gas air mata, peluru, dan pentung! Bijak-bijaklah menghadiahi Dhandy dan Ananda jeruji besi karena jangan-jangan dua orang muda ini tak kalah cintanya pada negeri dibandingkan mereka yang punya lencana dan kuasa membui!

Telinga lebar dan hati yang besar adalah jalan untuk saling mendengar dan bertukar nalar… bukan untuk menetapkan yang salah dan yang benar; melainkan untuk mendamaikan yang bertengkar dan bersama menemukan akar soal di antara kita! Berteriak dan berkelahi terlalu lama kadang mengubah ketidaksukaan menjadi obsesi kebencian. Atau, jangan-jangan, diam-diam kita sebenarnya menikmati kekerasan itu dan menggunakannya sebagai alat pemuas kebutuhan kita akan identitas golongan? Atau, justru ini yang diinginkan orang-orang yang memang punya kepentingan untuk menggulingkan demokrasi? Ah, entahlah! Aku tak mau kita saling curiga! Bila hati habis dimakan syak wasangka, kapan kita dapat kembali berpelukan sebagai anak-anak Pancasila?

Yang kutahu sederhana saja: ini saatnya menghentikan kekerasan – baik dari jalanan dan dari tahta para pejabat! Ini saatnya menggunakan jalur komunikasi! Yang kutahu sederhana saja: tak elok kita saling beradu otot sementara Mama-Mama di Ambon belum kering tangisnya karena rumah, harta dan cinta mereka dihantam lindu! Yang kutahu sederhana saja: pada akhirnya, hanya kasih yang boleh dan yang akan menang!

Damailah Indonesiaku!

“Tetap Mengasihi adalah Kebodohan?” Credo quia absurdum

Penyegelan. Penolakan. Pembubaran. Penutupan paksa.

Ini adalah kata-kata yang relatif sering berkaitan dengan ibadah jemaat Kristiani di Indonesia. Lancungnya hukum dan politik identitas yang makin kuat adalah dua dari sekian banyak penyebabnya. Video viral dari Kab. Indragiri Hilir, Riau, bukan yang pertama, dan tidak akan jadi yang terakhir.

EC6GqptWkAUtK5h

Geram? Ya, pada awalnya. Namun, Kristianitas dikenal dengan ajaran kasih dan pengampunan sehingga tak mungkin kami lama memendam amarah; apalagi hingga berbalas dendam. Tetap mencintai walau ditolak adalah hukum utama dari Manusia Tersalib itu…

Continue reading ““Tetap Mengasihi adalah Kebodohan?” Credo quia absurdum”

Kraków: Dari Kota Sang Naga hingga Kota Kerahiman Ilahi – Bagian 2

Kali ini saya mendapat kesempatan untuk berziarah ke Sanctuarium  (tempat suci) St. Yohanes Paulus II di kota Krakow yang indah. Bangunan suci ini sangat unik karena dibangun tanpa jendela, namun terlihat terang benderang karena pencahayaan yang baik dan karena pantulan sinar dari banyak mosaik suci yang dilapis emas. Sanctuarium ini sangat indah.

Mosaic St. Yohanes Paulus II yang digambarkan mengunjungi ragam tempat ziarah Bunda Maria mewakili cinta beliau yang amat besar sebagai Putra Maria. Saat saya duduk di kapel utama bawah tanahnya yang dingin dan sangat tenang, saya tidak hanya jatuh hati pada ruang oktagonal (bersudut delapan) ini saja, tapi juga saya kagum dengan St. Yohanes Paulus II ini.

Continue reading “Kraków: Dari Kota Sang Naga hingga Kota Kerahiman Ilahi – Bagian 2”

Kraków: Dari Kota Sang Naga hingga Kota Kerahiman Ilahi – Bagian 1

Tumpukan salju dan tiupan angin beku menyambut langkahku di Bandara St. Yohanes Paulus II di kota Kraków. Sehari sebelum saya tiba di kota ini, badai salju hebat melanda dan membauat banyak orang memilih tinggal di dalam rumah. Kraków – yang terletak di bagian selatan Polandia – adalah sebuah kota tua yang sejarahnya dimulai sekitar abad keempat. Alkisah, di salah satu gua dalam Bukit Wawel, hiduplah seekor naga bernama Smok Wawelski.

Wawel
Patung Smok Wawelski di pinggir Sungai Vistula

Banyak ksatria berusaha mengalahkannya dengan pedang dan tombak, namun gagal dan gugur sia-sia. Sampai akhirnya seorang pembuat sepatu cerdik bernama Krakus mengumpan sang naga dengan daging domba yang diisi serbuk mesiu. Naga yang penuh semburan api dari perutnya tidak mengetahui hal ini. Saat domba berisi serbuk mesiu itu dimakan, api tak kunjung henti meletup dalam tubuh sang naga. Ia pun dikalahkan dengan mudah dan tulang-belulangnya – yang sebenarnya lebih mirip tulang gajah purba – dipajang di Katedral Wawel hingga hari ini.

Pusat Peradaban Eropa dan Katolisitas

Iman dan tradisi Katolik sendiri tidak terpisahkan dari kebudayaan Polandia – khususnya Kraków. Sejarah iman Katolik di kota ini dimulai pada Malam Paskah tahun 966 – saat penguasa awal Polandia, Miezko I, dibaptis di sebuah tempat suci antara Poznan dan Gniezno. Rakyat Polandia yang awalnya terdiri dari suku-suku pagan perlahan mulai mengenal Kristus lewat usaha evangelisasi yang didukung oleh sang penguasa Kristiani ini – dan lebih-lebih oleh istrinya, Dobrawa dari Bohemia serta putra mereka yang kelak menjadi Raja pertama Polandia, Raja Bolesław I Sang Pemberani.

Continue reading “Kraków: Dari Kota Sang Naga hingga Kota Kerahiman Ilahi – Bagian 1”