Kraków: Dari Kota Sang Naga hingga Kota Kerahiman Ilahi – Bagian 2

Kali ini saya mendapat kesempatan untuk berziarah ke Sanctuarium  (tempat suci) St. Yohanes Paulus II di kota Krakow yang indah. Bangunan suci ini sangat unik karena dibangun tanpa jendela, namun terlihat terang benderang karena pencahayaan yang baik dan karena pantulan sinar dari banyak mosaik suci yang dilapis emas. Sanctuarium ini sangat indah.

Mosaic St. Yohanes Paulus II yang digambarkan mengunjungi ragam tempat ziarah Bunda Maria mewakili cinta beliau yang amat besar sebagai Putra Maria. Saat saya duduk di kapel utama bawah tanahnya yang dingin dan sangat tenang, saya tidak hanya jatuh hati pada ruang oktagonal (bersudut delapan) ini saja, tapi juga saya kagum dengan St. Yohanes Paulus II ini.

Continue reading “Kraków: Dari Kota Sang Naga hingga Kota Kerahiman Ilahi – Bagian 2”

Advertisements

Kraków: Dari Kota Sang Naga hingga Kota Kerahiman Ilahi – Bagian 1

Tumpukan salju dan tiupan angin beku menyambut langkahku di Bandara St. Yohanes Paulus II di kota Kraków. Sehari sebelum saya tiba di kota ini, badai salju hebat melanda dan membauat banyak orang memilih tinggal di dalam rumah. Kraków – yang terletak di bagian selatan Polandia – adalah sebuah kota tua yang sejarahnya dimulai sekitar abad keempat. Alkisah, di salah satu gua dalam Bukit Wawel, hiduplah seekor naga bernama Smok Wawelski.

Wawel
Patung Smok Wawelski di pinggir Sungai Vistula

Banyak ksatria berusaha mengalahkannya dengan pedang dan tombak, namun gagal dan gugur sia-sia. Sampai akhirnya seorang pembuat sepatu cerdik bernama Krakus mengumpan sang naga dengan daging domba yang diisi serbuk mesiu. Naga yang penuh semburan api dari perutnya tidak mengetahui hal ini. Saat domba berisi serbuk mesiu itu dimakan, api tak kunjung henti meletup dalam tubuh sang naga. Ia pun dikalahkan dengan mudah dan tulang-belulangnya – yang sebenarnya lebih mirip tulang gajah purba – dipajang di Katedral Wawel hingga hari ini.

Pusat Peradaban Eropa dan Katolisitas

Iman dan tradisi Katolik sendiri tidak terpisahkan dari kebudayaan Polandia – khususnya Kraków. Sejarah iman Katolik di kota ini dimulai pada Malam Paskah tahun 966 – saat penguasa awal Polandia, Miezko I, dibaptis di sebuah tempat suci antara Poznan dan Gniezno. Rakyat Polandia yang awalnya terdiri dari suku-suku pagan perlahan mulai mengenal Kristus lewat usaha evangelisasi yang didukung oleh sang penguasa Kristiani ini – dan lebih-lebih oleh istrinya, Dobrawa dari Bohemia serta putra mereka yang kelak menjadi Raja pertama Polandia, Raja Bolesław I Sang Pemberani.

Continue reading “Kraków: Dari Kota Sang Naga hingga Kota Kerahiman Ilahi – Bagian 1”

Panggilan Menjadi Dehonian

“Saya menemukan cinta di dalam panggilan menjadi Dehonian… dan saya sangat bahagia karenanya!” ~ Selamat merayakan Hari Minggu Panggilan, sahabatku semua!
.
.
Bagikanlah video kecil ini untuk anak-anakmu, untuk kawanmu, untuk banyak jiwa muda yang tergerak mengikuti Dia dengan lebih sempurna!
.
.
#dehonian #dehonians #imamhatikudusyesus #scj #scjindonesia #skolastikatscj #minggupanggilan #imamkatolik #gerejakatolik #katolikindonesia

#SoulBites: Tentang Penderitaan

#SoulBites – “Tentang Penderitaan”

Roma 8:28: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
.
.
Silahkan membagikan berkat Tuhan kepada keluarga, rekan dan sahabat Anda semua! #romokoko #renungandehonian #priestsofthesacredheart#dehonian #dehonianos #imamhatikudusyesus

Iman dan Kearifan Panggilan

HOMILI PAUS FRANSISKUS

MISA PENUTUPAN SIDANG UMUM BIASA SINODE TENTANG KAUM MUDA, BASILIKA SANTO PETRUS, VATIKAN, 28 Oktober 2018

Bacaan Ekaristi : Yer. 31:7-9; Mzm. 126:1-2ab,2cd-3,4-5,6; Ibr. 5:1-6; Mrk. 10:46-52.

Kisah yang baru saja kita dengar adalah kisah terakhir dari kisah-kisah penginjil Markus yang berkaitan dengan pelayanan keliling Yesus, yang akan memasuki Yerusalem untuk wafat dan bangkit. Bartimeus dengan demikian adalah orang terakhir dari orang-orang yang mengikuti Yesus di sepanjang jalan : dari seorang pengemis di sepanjang jalan menuju Yerikho, ia menjadi seorang murid yang berjalan bersama murid-murid lainnya dalam perjalanan menuju Yerusalem.. Kita juga telah berjalan saling berdampingan; kita telah menjadi sebuah “sinode”. Injil ini memetereikan tiga langkah dasariah dalam perjalanan iman.

Pertama, marilah kita membahas Bartimeus. Namanya berarti “anak Timeus”. Begitulah cara Injil menggambarkannya : “Bartimeus, anak Timeus” (Mrk 10:46). Namun anehnya, ayahnya tidak didapati. Bartimeus sendirian di pinggir jalan, jauh dari rumah dan tanpa ayah. Ia tidak dicintai, tetapi terabaikan. Ia buta dan tidak punya siapa-siapa untuk mendengarkannya. Yesus mendengar permohonannya. Ketika Ia datang kepadanya, Ia membiarkannya berbicara. Tidaklah sulit menebak apa yang diinginkan Bartimeus : jelas, orang buta ingin melihat atau mendapatkan kembali penglihatannya. Tetapi Yesus meluangkan waktu; Ia meluangkan waktu untuk mendengarkan. Inilah langkah pertama dalam membantu perjalanan iman : mendengarkan. Mendengarkan adalah kerasulan telinga : mendengarkan sebelum berbicara.

WORLD YOUTH DAY KRAKOW

Continue reading “Iman dan Kearifan Panggilan”

Mukjizat di Ujung Sedotan Plastik

26 Juni 2016. Minggu pagi itu berlalu begitu cepat.

Misa akhir pekan untuk beberapa stasi di pedalaman Tulangbawang, Lampung, kututup dengan survei Gereja yang akan dibangun oleh Yayasan Vinea Dei. Kebetulan, di minggu ini saya tak sendirian. Albert Gregory Tan, orang muda inspiratif pendiri Yayasan Vinea Dei ini menemani perjalananku melewati hutan-hutan karet Sumatra yang berlumpur. Sahabat dapat membuka web Yayasan sosial Katolik ini di peduligerejakatolik.org.

13626450_1309712262390283_1856975725443586683_n
Albert Gregory Tan – OMK pendiri Yayasan Vinea Dei – bersama rekan-rekan volunteer telah membangun lebih dari 100 gereja di 25 Keuskupan seluruh nusantara!

Kebetulan, saya juga menjadi salah satu pengawas Yayasan luar biasa ini. Yayasan ini semua dimotori oleh orang muda Katolik ragam latar belakang dan bergelut membangun gereja di tempat yang jauh dan terpencil di seluruh pelosok nusantara.

Di tengah hari, saya bersiap mengantar Albert Tan kembali ke bandara yang berjarak 3,5 jam dari paroki. Dalam perjalanan kami, Rm. Sriyanto SCJ – yang akrab kupanggil Romo Sri, hahaha – menelponku:

“Bro, apakah bisa membantu memberi baptisan anak di RSUD Tulangbawang? Jaraknya jauh sekali dari Mesuji…” tanya beliau. Maklumlah, Paroki St. Andreas Mesuji adalah paroki paling utara di Keuskupan Tanjung Karang.

IMG-9261
Perjalananku untuk pelayanan Ekaristi: setia dengan motor Scorpio, sandal jepit dan tas misa berisi hosti dan anggur 🙂

“Oh ya Mas, kebetulan kami akan lewat RSUD dalam perjalanan ke bandara,” ujarku. Puji Tuhan, di dalam mobilku yang masih penuh bekas lumpur, masih tersimpan stola dan minyak suci. Firasatku mengatakan anak yang akan kubaptis ini pasti sudah parah sakitnya.

Benar saja. Saya dan Albert disambut oleh ibu dari anak ini. Sang ibu masih pucat dan matanya terlihat sembab. Saya tak menyangka bahwa “anak” yang dimaksud oleh Romo Sri ternyata adalah bayi yang baru saja dilahirkan dalam kondisi prematur. Hatiku trenyuh. Ya Tuhan, bayi laki-laki ini kecil sekali; mungkin seukuran kepalan tanganku. Ia berada dalam inkubator dengan banyak selang: infus, oksigen, selang sonde ke dalam mulutnya…

Continue reading “Mukjizat di Ujung Sedotan Plastik”

Beato Juan María de la Cruz SCJ

phoca_thumb_l_030 d. mariano prroco

Juan Maria De La Cruz: Salah satu di antara begitu banyak kisah para kudus

Dataran tinggi yang mengelilingi kota Avila (Spanyol) terletak di antara blok-blok granit besar. Tiang-tiang kota tua itu muncul bagai tangan-tangan usang terbuka ke langit, ke  cakrawala yang ditempa oleh musim panas dan musim dingin yang ekstrim. Tanah Avila di negara Spanyol ini terkenal sebagai “tanah orang Kristiani” yang kuat dan taat. Keluarga-keluarga Katolik dengan banyak anak dan dengan latar belakang petani dan peternak telah hidup di sana selama berabad-abad. Dan beberapa di antara mereka menjadi hadiah dan saksi Allah bagi gerejaNya. Para kudus dari kota ini – St. Teresa dari Avila dan orangtuanya, serta beato Juan Maria de la Cruz – menjadi saksi Injil yang hidup!

Beato Juan Maria lahir di S. Esteban de los Patos (Ávila) pada tanggal 25 September 1891. Dia adalah putra pertama dari lima belas saudara dan setelah dibaptis dengan nama Mariano. Ia diberi nama yang sama dengan ayahnya – yang bersama istrinya, Dona Emerita – berusaha untuk memberi pendidikan Katolik yang kuat bagi anak-anak mereka.

Keluarga Mariano dikenal rajin mengurus gereja setempat. Sang ayah, pada sore hari, saat kembali dari tugas-tugas di ladang, memimpin novena dan rosario bagi umat sekitar karena mereka tidak memiliki imam di desa kecil itu. Inilah salah satu alasan kuat mengapa Mariano muda merasa terpanggil menjadi seorang imam.

Continue reading “Beato Juan María de la Cruz SCJ”

Kakiku Milik Bunda Maria

 

fatima-en-fondo-negro
“Totus tuus” – “Semua milikmu, ya Maria!” adalah motto Bapa Suci St. Yohanes Paulus II

 

Saat masih kecil, kaki kanan saya tiba-tiba menjadi menekuk kaku sepulang dari bermain sepeda di rumah teman. Saya ingat betul Mama, Papa dan seisi rumahku menjadi heboh karena saya – yang masih berusia sembilan tahun saat itu – berteriak kesakitan saat berusaha bangun dari tempat tidur dan meluruskan kakiku.

Tukang urut segera dicari. Saya menangis makin keras saat Mbah Putri tukang urut itu mulai berusaha meluruskan lutut kananku. Rasa sakit luar biasa menjalar sampai di ubun-ubunku. Karena tubuhku terlihat ringkih dan tangisanku makin menjadi, sang nenek tukang urut jadi ciut nyalinya. Ia pun mengatakan tidak sanggup dan tidak sampai hati.

 

Tak dapat diterangkan

Mama mengantarku ke Rumah Sakit dengan segera. Rontgen dilakukan. Janji dengan dokter spesialis tulang dan syaraf juga dibuat. Hasilnya? Mereka tidak menemukan apapun yang salah dengan kaki saya. Second opinion juga menunjukkan hasil yang serupa. Dan dari sana perjalanan panjang berbulan-bulan untuk mencari kesembuhan-pun di mulai.

Saya yang masih duduk di kelas 4 SD harus dipapah dan digendong untuk masuk kelas. Saya harus belajar menggunakan kruk untuk berjalan. Sepulang sekolah, saya masih harus pergi ke aneka dokter, tukang urut, shinse (ahli pengobatan Tiongkok) hingga ke macam-macam dukun (ya… dukun! Ha ha ha …).

Continue reading “Kakiku Milik Bunda Maria”

Superman di Balik Altar: Mengapa Saya Menjadi Imam-Religius untuk Hati Yesus

Saat saya kecil, salah satu super-hero yang lekat dalam hidup saya adalah Superman. Saya ingat saat Mama membeli baju Superman lengkap dengan mantel merah menyala untukku yang berusia 5 tahun. Saya ingin menjadi Superman yang kuat, yang bisa terbang dan yang selalu menolong orang lain.

Kisah panggilanku: “Romo Koko”

Saat saya berusia 8 tahun, saya perlahan mengerti bahwa Superman adalah tokoh kartun dan bukan sosok nyata. Saya sedikit kecewa dengan kenyataan bahwa Superman adalah tokoh fiksi (hahaha… mungkin teman-teman juga pernah mengalami rasa kecewa yang sama).

Namun, di usia yang sama, saya mulai sadar bahwa ada Superman lain dengan mantel warna-warni yang indah: para Imam di balik altar. Mereka memakai jubah bersayap yang sangat mirip dengan sayap Superman – walau celana dalamnya para Romo tidak kelihatan di luar seperti Superman hahahaha!

 

O gosh, bagi saya yang berusia 9 tahun, the priests do look like a Superman!

And I wannabe one of them!

 

“Tragedi Wafer Sakti”

Saya juga ingat bahwa saya ingin sekali ikut mencicipi ‘wafer’ tipis yang diangkat oleh para imam dan yang selalu dibagikan ke semua umat. Saya belum menerima Komuni Pertama karena masih terlalu muda. Suatu Minggu, saya mencoba merengek meminta Hosti Suci pada Mama saya – dan saya nekat berusaha merebutnya dari tangan Mama. Saya pikir: “Wafer sakti itulah yang dapat membuat saya cepat besar dan segera menjadi seperti sang Romo!”

 

“Plak!!!”

Tangan Mama tak segan mendarat di ubun-ubunku!

Mata mamaku mendelik murka – bayangkanlah sejenak betapa sulitnya seorang Mama Tionghoa berusaha melotot demi menampakkan ekspresi geramnya, hahahaha…

Continue reading “Superman di Balik Altar: Mengapa Saya Menjadi Imam-Religius untuk Hati Yesus”